🏑 Tidak Ada Yang Memelihara
Menurutfatwa Ulama Baladil Harom, memelihara ikan hias juga diperbolehkan selama tidak ada kezhaliman di dalamnya. 8. Tidak Boleh Memelihara Ikan untuk Mengadunya Walaupun ada beberapa jenis ikan aduan yang memang fungsinya untuk diadukan atau dilombakan. Apabila niat dari mengadu ikan tersebut sudah tidak baik maka hal itu bisa menjadi dosa.
IDXChannel- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) siap mendukung pengembangan budidaya jagung di Papua dan NTT untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.. Dukungan diberikan melalui pembangunan bendungan untuk untuk irigasi pertanian dan pengembangan food estate. Dukungan infrastruktur lain juga diberikan untuk mendukung peningkatan produksi dan ekspor jagung pada
Sistemkami menemukan 25 jawaban utk pertanyaan TTS tidak ada yang memelihara tentang binatang. Kami mengumpulkan soal dan jawaban dari TTS (Teka Teki Silang) populer yang biasa muncul di koran Kompas, Jawa Pos, koran Tempo, dll. Kami memiliki database lebih dari 122 ribu. Masukkan juga jumlah kata dan atau huruf yang sudah diketahui untuk
Dilansirdari berbagai sumber, simak beberapa alasan utama kenapa kamu dilarang pelihara hewan liar. 1. Terkena pidana. Hewan liar dilindungi oleh negara. Tak hanya melukai, menyelundupkan, dan memperjualbelikannya saja yang melanggar hukum. Sekadar memelihara mereka di rumah saja akan membuatmu terancam pidana.
Kalausaya pribadi, karena tidak ada space, tidak punya kemampuan melatih anjing, dan belum sanggup terlalu sering membersihkan jilatan anjing, saya cukup melihat2 saja orang yang main2 dengan anjingnya. Bagi yang memelihara anjing, semoga anjingnya sehat selalu, gizi dan kebersihan bulunya terjamin.
Zaileyselama ini memelihara seekor kucing yang ia beri nama Koko. Pada Idul Adha 2022 kemarin, Zailey memutuskan untuk pulang kampung. Kampungnya ada di Rompin, Pahang.
Pusatkanlahperhatian dan pandangan kita kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara hidup kita, kita harus selalu bersuyukur dan jangan mengeluh. 26 tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, Jika Dia sudah berjanji, maka Dia setia dan mampu menepati janji-Nya. Obat dari kekuatiran/ gelisah adalah PERCAYA DAN IMAN Yohanes 14 : 1;
Kucingadalah hewan yang menggemaskan dan banyak dipelihara karena selain lucu juga hewan ini sangat jinak dan penurut. Kucing juga termasuk hewan yang punya insting kuat dan penyayang terhadap majikannya, karena itulah banyak yang menyukainya. Dikutip kanal YouTube magenta islam dengan judul " Kenapa disarankan tidak boleh pelihara kucing?? Ustadz Khalid Basalamah pun meng
Namun tahukah kamu bahwa kita tidak bisa memelihara semua jenis binatang. Ada beberapa binatang yang tidak bisa kita pelihara, contohnya seperti binatang langka. Meskipun sudah ada larangan tertulis, sampai dengan saat ini penjualan binatang langka antar negara masih saja terus terjadi. Alasan Mengapa Kita Tidak Boleh Memelihara Binatang Langka
1MHivI. - Tren memelihara satwa liar di kalangan masyarakat bermunculan belakangan ini. Mereka yang memelihara satwa liar kebanyakan adalah tokoh masyarakat seperti influencer dan pejabat publik. Padahal, kedekatan mereka, bisa berbahaya bagi manusia dan mereka sendiri, apalagi jika dikelola dengan cara yang kurang tepat. Risiko dari kedekatan manusia dengan satwa liar adalah penularan virus zoonosis. Di alam liar, satwa memiliki virusnya masing-masing, jika jarak kehidupannya dengan manusia, penularan ke manusia sangat tinggi. Belum lagi, mungkin virus yang kita miliki juga bisa terpapar pada mereka. "Masalahnya, orang-orang ini punya pengaruh yang nantinya menjadi contoh," kata peneliti alumni Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia Rheza Maulana. Dia menerangkan pendapatnya dalam program rutin National Geographic Indonesia Bincang Redaksi-54 bertajuk Salah Kaprah Kita dengan Konservasi Satwa pada 29 September 2022. "Orang Indonesia itu FOMO fear of missing out," tambah Nur Purba Priambada, supervisor animal management Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia YIARI lewat forum yang sama. "Kita lihat kalau awal-awal pandemi itu kita latah bersepeda, kita ikutan keluar bersepeda alih-alih diam di rumah saja." Satwa liar terancam karena habitatnya menipis. Mereka berpindah untuk beradaptasi dari kepunahan mereka karena alih fungsi lahan, perburuan, pembakaran dan penebangan hutan, dan krisis iklim. Berbagai penelitian menjelaskan, fenomena ini membawa manusia pada pandemi seperti yang dialami lewat COVID-19, virus nipah, dan cacar monyet. Fenomena pemeliharaan satwa liar ini jadi sorotan bagi Rheza terkait kedekatannya dengan manusia. Dia mempublikasikan penelitiannya di Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan pada 31 Agustus 2022. Makalahnya berjudul "Paradoks kepemilikan satwa liar, di tengah pandemi penyakit yang ditularkan oleh satwa liar." Dalam temuannya, tren pemeliharaan satwa liar, khususnya monyet peliharaan, berdasarkan konten di media sosial bermunculan sejak 2020. Awalnya, konten hewan sekadar hewan peliharaan, kemudian berkembang pada jenis satwa liar dan penjualannya. "Memelihara satwa liar itu bertentangan dengan kesejahteraan satwa serta berpotensi menyebarkan penyakit zoonosis. Memelihara satwa liar itu problematik," kata Purba yang merupakan dokter hewan. "Satwa liar. Jadi mereka adalah makhluk hidup yang bukan manusia dan tidak jinak. Ini memiliki hubungan dengan beberapa spesies lain dan hidup liar di daerah tanpa manusia, jadi ini ditekankan dulu," terang Rheza. Baca Juga Dunia Hewan Tak Semua Satwa Liar Pulih selama Kuncitara COVID-19 Baca Juga Dunia Akan Hadapi Kepunahan Masal Hewan di 2050, Ada Gajah Sumatra Baca Juga Keadilan untuk Orangutan Hukuman Selalu Ringan dan Kehilangan Habitat Baca Juga Eksploitasi Perdagangan Satwa Sebabkan Populasi Poksai Mantel Langka Misal, monyet berfungsi untuk kelanjutan ekosistem. Dia suka memakan buah, kemudian berpindah tempat dan membuang biji buah. Pada akhirnya biji yang dibuang menjadi pohon baru, dan menjadi tempat bernaungnya burung liar. "Satwa liar itu tidak sama dengan hewan peliharaan. Hewan peliharaan atau hewan domestik adalah satwa liar yang telah beradaptasi hidup berdampingan dengan manusia selama puluhan ribu tahun," lanjutnya. "Hal tersebut membuatnya terjadi perubahan genetik, baik sifat maupun fisik. Maka dapat mendampingi manusia sebagai peliharaan, sumber makanan, atau hewan pekerja." National Geographic Indonesia Bincang Redaksi-54 Salah Kaprah Kita dengan Konservasi Satwa dengan mengundang Rheza Maulana dan Nur Purba Priambada. Perbincangan diselenggarakan pada Kamis, 29 September 2022. Semua hewan peliharaan, seperti kucing dan anjing, punya cerita bagaimana mereka bisa berdampingan dengan kita. Akan tetapi, jika kita berandai-andai jauh di masa depan dengan satwa liar dipelihara terus-menerus, akan ada ketidakseimbangan ekosistem liar. Semua spesies yang harusnya membantu alam bekerja, pada akhirnya mengalami perubahan sifat dan fisik yang lebih patuh dengan manusia. "Lagi pula buat apa pelihara-pelihara satwa liar? Toh, itu bukan kebutuhan pokok. Kalian tidak akan mati kalau tidak pelihara. Bukan kebutuhan dari sandang, pangan, papan," Rheza berpendapat. Dalam forum itu, saya bercanda, "mungkin sekarang kebutuhan kita berubah jadi sandang, pangan, papan, dan yang baru eksis flexing." Kami bertiga tertawa. Beberapa tokoh masyarakat yang punya pengaruh di media sosial selalu berdalih bahwa peliharaan mereka legal secara hukum. Namun, masalah pemeliharaan satwa liar bukan hanya sekadar antara legal atau tidaknya, tetapi juga pada perawatan dan konservasinya. Kalangan yang mengaku pencinta hewan dengan memelihara satwa liar dan menjadikannya konten mengatakan tindakannya sebagai edukasi. Sayangnya, ada beberapa hal yang kurang diperhatikan dalam memberikan perlakuan terhadap satwa liar yang dipelihara. "Basic pilar konservasi itu ada 3P, perlindungan, pengawetan, terakhir pemanfaatan," terang Purba. Perlindungan adalah bagaimana konservasi melindungi satwa di alam beserta alamnya. Kemudian pengawetan merupakan usaha agar satwa liar bisa hidup lebih lama, terjaga kesehatannya dari paparan penyakit, atau bagaimana mereka bisa bereproduksi. Setelah itu, ada pemanfaatan, di mana pihak yang memiliki satwa liar bisa memanfaatkannya untuk edukasi atau dirawat. "Tapi yang terjadi ke sininya, justru kalau dilihat bagaimana orang bisa memelihara satwa liar lebih ke pemanfaatan," kata Purba. Enrique Lopez-Tapia Kera ekor panjang Macaca fascicularis di Taman Nasional Gunung Leuser. Satwa liar punya hak untuk bisa hidup dan berperilaku sebagaimana mestinya di alam liar. Pemeliharaan mereka di ruang yang sempit, fasilitas tidak memadai, dan membuatnya tidak sejahtera, adalah kejahatan konservasi. Tokoh-tokoh yang memiliki satwa liar cenderung memanfaatkan mereka sebagai peliharaan dan tontonan publik dengan dalih mengedukasi. "Sementara kondisi di alamnya bermasalah, bahkan jadi justifikasi 'ini alam sudah tidak ramah, tidak aman buat si hewan jadi harus di rumah,' terus orang ikut-ikutan memelihara satwa liar," tambahnya. Padahal prinsipnya, konservasi harus fokus terlebih dahulu pada sektor perlindungan dan diikuti oleh pengawetan. Ketika populasi sudah aman, stabil, bahkan berlebih, baru bisa lanjut ke pemanfaatan. Baca Juga Cula Badak Sering Dipotong untuk Konservasi, Apakah Berbahaya? Baca Juga Mengapa Ada Begitu Banyak Keanekaragaman Hayati di Daerah Tropis? Baca Juga Lebih Banyak Spesies Terancam Punah dari yang Diperkirakan Sebelumnya Di bidang ilmiah, satwa liar dipahami juga terkait psikologisnya, atau biasa disebut dengan zoochosis. Setiap spesies, punya zoochosis berbeda untuk dirawat. Itu sebabnya, butuh keahlian yang mendalam untuk merawat mereka, apalagi jika yang dipelihara lebih dari satu spesies. Selain keahlian, pihak yang hendak merawat satwa liar harus memiliki fasilitas yang mumpuni. Misal, jika Anda hendak merawat harimau, Anda memerlukan sangkar yang sangat besar. Ukurannya harus bisa membuat harimau meluapkan kebiasaan alam liarnya. Atau jika Anda hendak merawat burung, sangkar yang digantung tidak cukup, perlu ada sangkar lebar yang bahkan ditumbuhi beberapa pohon di dalamnya. BIG/ArchDaily Kebun binatang 'Zootopia' di Denmark. Gagasan kebun binatang yang berfokus pada aktivitas satwa daripada manusia demi kelestariannya. Dalam penelitian lain, Rheza bahkan membuat desain ramah konservasi satwa liar untuk kebun binatang. Makalahnya dipublikasikan di IOP Conference Series Earth and Environmental Science pada Desember 2018. Konsepnya adalah agar kebun binatang tidak lagi berfokus pada pengunjung manusia, tetapi pada satwa agar bisa bergerak lebih luas. Konsep kebun binatang yang berfokus pada satwa liar daripada manusia sebenarnya sudah dikembangkan di beberapa negara Eropa. Rheza mencoba membuat desain untuk di Indonesia yang lebih kaya kehidupan hayatinya. Dalam perlindungan atau penyelamatan dan pengawetan, pihak swasta sudah diatur menjadi instrumen konservasi umum seperti kebun binatang. Pihak lainnya seperti taman margasatwa, kebun raya, dan museum zoologi. Instrumen lainnya adalah konservasi khusus, bertujuan untuk penyelamatan satwa. Contohnya seperti pusat rehabilitasi satwa, pusat konservasi khusus, pusat pelatihan gajah. Pada konservasi umum, mereka memiliki hak khusus untuk peragaan dan edukasi. Akan tetapi, kerap terjadi bahwa hewan di kebun binatang dimanfaatkan dengan tidak wajar. Misalnya harimau yang tenang agar pengunjung bisa berfoto, atau latihan kasar hewan untuk sirkus. Maka dari itu, pihak konservasi umum juga harus memedulikan etika dan kesejahteraan hewan. Selama ini, satwa liar bisa dirawat oleh masyarakat karena alasan agar menghindari perburuan satwa liar dan pasar satwa gelap. Itu sebabnya beberapa pihak yang memelihara satwa liar berani mengakui bahwa izin kepemilikannya legal. Namun, lagi-lagi pemeliharaan satwa liar tidak bisa sembarang orang, terutama awam yang tidak memahami ilmiahnya. Rheza dan Purba memandang bahwa peraturan konservasi di Indonesia sebagai dasar sudah cukup mantap. Masalahnya, pemahaman dan penerapan peraturannya sering diakali, sehingga butuh adanya pembaruan dari regulasi yang sudah ada. Peraturan konservasi mungkin bisa ditegaskan bagaimana sebaiknya pemanfaatan dilaksanakan. PROMOTED CONTENT Video Pilihan
Hewan-hewan peliharaan manusia pada umumnya adalah kucing, anjing, kelinci, ikan, dan burung. Namun, tidak sedikit orang yang hobi memelihara hewan-hewan liar dan eksotis seperti buaya, harimau, ular, dan berbahaya untuk keselamatan, seseorang juga harus mempertimbangkan deretan konsekuensi yang datang dari memelihara hewan liar. Apa saja? Dilansir dari berbagai sumber, simak beberapa alasan utama kenapa kamu dilarang pelihara hewan Terkena liar dilindungi oleh negara. Tak hanya melukai, menyelundupkan, dan memperjualbelikannya saja yang melanggar hukum. Sekadar memelihara mereka di rumah saja akan membuatmu terancam pidana. Kamu juga akan terkena denda hingga ratusan juta ini tertuang pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Peraturan tersebut mengatur bahwa tumbuhan dan hewan, baik yang langka atau tidak, beserta ekosistemnya dilindungi oleh negara. 2. Tidak bisa asal menjinakkan hewan liar tidak bisa dilakukan hanya dalam hitungan bulan saja. Proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Rubah merah Rusia, misalnya. Eksperimen untuk menjinakkan rubah merah Rusia telah dilakukan sejak tahun 1959 dan masih berlangsung hingga saat ini. Proses ini juga dilakukan dan diawasi oleh para ahli ilmu berdasarkan hubungan timbal balik antara hewan dan manusia. Hewan peliharaan yang kita tahu seperti anjing dan kucing telah hidup bersandingan dengan manusia sejak ribuan tahun membantu manusia mengusir hewan-hewan pengerat, dan anjing membantu menggembala ternak sekaligus memeringatkan pada predator. Sebagai gantinya, manusia memberi mereka Hewan liar dapat membawa Nature Network menyebutkan pada lamannya bahwa beberapa hewan liar seperti rakun dan sigung dapat membawa penyakit rabies tanpa menunjukkan gejala apapun. Tak hanya itu, orang-orang pemelihara reptil dan amfibi liar juga rentan terinfeksi bakteri salmonella. Hewan liar dapat membawa penyakit-penyakit berbahaya tanpa kamu ketahui dan menyebarkannya ke seisi rumah. Baca Juga 10 Daftar Hewan Paling Berisik Dunia, Kamu Tak Akan Tahan Mendengarnya 4. Mereka tidak selamanya lucu dan liar yang masih kecil memang lucu dan menggemaskan. Bahkan, terkadang kita tidak bisa membedakan anak kucing besar dengan kucing biasa, atau anak coyote dan rubah dengan anak anjing kamu sadari bahwa mereka tidak akan selamanya kecil dan menggemaskan. Mereka akan tumbuh semakin besar, dan tak hanya penampilannya saja yang berubah, kepribadian dan sifat liarnya juga akan Bayi hewan liar butuh pengasuhan hewan liar butuh asupan nutrisi tertentu untuk hidup sehat. Kekurangan nutrisi akan berbahaya bagi tumbuh kembang mereka. Tentu saja mereka tidak bisa puas dengan makanan-makanan yang biasa kamu sediakan untuk hewan peliharaan biasa. Semakin mereka besar, jumlah makanan yang mereka butuhkan juga akan itu, insting berburu telah muncul pada hewan liar sejak mereka kecil. Sekalipun kamu hendak menekan sifat liar mereka, insting berburu ini akan selalu ada biar bagaimanapun berburu ketika mereka masih kecil mungkin tidak jadi masalah. Tapi bagaimana jadinya ketika mereka telah dewasa dan latihan berburu denganmu? Bisa-bisa kamu menjadi mangsa Alam liar adalah tempat terbaik manusia, tentu kamu akan memilih untuk hidup di mana banyak manusia, bukan? Sama halnya seperti kita, hewan liar juga akan memilih untuk hidup di alam liar. Entah seberapa kejamnya alam liar, itu tetaplah tempat terbaik bagi hewan liar yang diasuh oleh manusia seumur hidupnya mungkin tak akan tahu siapa mereka sebenarnya. Ketika kembali ke alam liar, mereka akan terkejut dan kesulitan bertahan tadi adalah alasan mengapa kamu tidak boleh pelihara hewan liar. Peduli pada mereka bukan berarti kamu harus memelihara mereka secara langsung di dekatmu. Kamu bisa membantu dengan menjaga lingkungan, meningkatkan kesadaran, membantu lewat donasi, atau berkunjung ke konservasi. Baca Juga 7 Hewan Tertinggi di Dunia, Jerapah Ternyata Bukan yang Nomor 1 Lho! IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
Halodoc, Jakarta - Kura-kura adalah hewan peliharaan favorit bagi beberapa orang, karena mereka pendiam, lucu, dan tidak merontokkan bulu. Namun, kura-kura bisa hidup sangat lama berkisar antara 50 sampai 100 tahun. Jika kamu ingin memeliharanya sebagai hewan peliharaan, bersiaplah untuk memberikan perawatan seumur hidup apa saja perawatan dan hal yang harus diperhatikan sebelum memelihara kura-kura? Yuk, simak pembahasan berikut ini!Baca juga 5 Penyakit yang Ditularkan dari HewanAda beberapa hal yang perlu diperhatikan jika kamu ingin memelihara kura-kura. Berikut ini di antaranya Perilaku dan Temperamen Kura-KuraKebanyakan kura - kura jinak dan cenderung pemalu, kecuali jika dua jantan dimasukkan ke dalam satu kandang. Ini tidak disarankan karena dua kura-kura jantan bisa menjadi agresif satu sama lain. Bahkan menyerang satu sama lain, dan mengakibatkan cedera kura-kura terlalu besar untuk dipegang saat dewasa, dan disarankan untuk tidak terlalu sering memegang kura-kura saat mereka lebih kecil juga. Hal ini dapat menyebabkan kura-kura stres, yang sering kali berujung pada penyakit, jika situasi stres tersebut terus berlanjut. Rumah yang Nyaman dan AmanBanyak spesies kura-kura berukuran cukup besar dan membutuhkan kandang berukuran layak, lebih disukai di luar ruangan. Bergantung pada suhu tempat asal kura-kura dan area tempat tinggal, mungkin kamu perlu membawa kura-kura peliharaan ke dalam ruangan saat malam hari atau selama cuaca kura-kura bertumbuh menjadi besar, kamu perlu menyediakan kandang dalam ruangan yang memadai. Hal ini bisa menjadi tantangan jika kamu tidak memiliki cukup ruang di rumah. Beberapa spesies kura-kura juga melakukan hibernasi dan membutuhkan kondisi lingkungan khusus. Saat membuat kandang luar ruangan, kamu harus memastikan kandang yang cukup kuat. Sebab, kura-kura cukup kuat, terutama yang berukuran besar, dan kandang yang tipis tidak akan menahannya untuk waktu yang lama. Beberapa kura-kura juga memanjat dengan sangat baik sehingga mereka mungkin membutuhkan kandang beratap. Sangat penting juga untuk memastikan kandang itu aman dari predator termasuk anjing. Pastikan tidak ada bahaya di kandang, termasuk tanaman beracun. Sediakan air yang dangkal saja, tidak ada benda tajam, dan tidak ada benda kecil yang tidak dapat dimakan yang dapat tertelan secara tidak MakanannyaMakanan kura-kura bervariasi berdasarkan spesies, tetapi semua kura-kura peliharaan membutuhkan makanan yang cukup bervariasi. Dengan perhatian yang cermat pada jumlah serat serta keseimbangan kalsium dan fosfor dalam makanan spesies kura-kura memiliki nafsu makan yang besar dan juga membutuhkan makanan dalam jumlah besar. Waktu untuk menyiapkan makanan sehari-hari dan biaya yang terkait dengan jumlah makanan yang dimakan kura-kura harus dipertimbangkan sebelum menjadikannya sebagai hewan juga Terungkap! Alasan Mengapa Ibu Hamil Harus Menghindari Hewan Jenis Kura-KuraSeperti halnya reptil lainnya, cara memilih jenis kura-kura untuk dipelihara adalah mendapatkan yang ditangkarkan jika memungkinkan. Penangkapan langsung dari alam bebas dapat membuat kura-kura stres dan jadi lebih rentan terhadap penyakit. Dimungkinkan juga di beberapa daerah untuk menemukan kura-kura peliharaan dari tempat penyelamatan. Banyak di antaranya berasal dari pemilik yang memutuskan bahwa mereka tidak dapat menangani jumlah pemeliharaan dan perawatan yang dibutuhkan penting untuk memilih spesies kura-kura peliharaan yang tepat untuk berdasarkan kebutuhan kandang, lingkungan, dan makanan. Spesies yang berbeda memiliki ukuran dewasa yang sangat berbeda, kebutuhan suhu dan cahaya, makanan, dan beberapa perlu hibernasi sementara yang lain untuk meneliti setiap spesies kura-kura yang dipertimbangkan sebelum membeli atau mengadopsinya. Kura-kura yang umum dijadikan peliharaan adalah kura-kura Rusia, kaki merah dan varietas kepala ceri, sulcata, kura-kura Yunani, dan kura-kura Masalah Kesehatan UmumKura-kura rentan terhadap infeksi saluran pernapasan. Terutama yang dibesarkan di alam liar, lebih mungkin terkena infeksi saluran pernapasan, yang disebabkan oleh kondisi yang tidak sehat. Kura-kura akan tampak lesu, kehilangan berat badan, dan mungkin menunjukkan lendir berlebih di sekitar mulut dan saluran hidungnya. Baca juga 4 Tips Memilih Hewan Peliharaan untuk AnakTanda-tanda awal infeksi pernapasan termasuk kesulitan bernapas, sering membuka mulut untuk bernapas, memanjangkan leher, bersin, dan menolak makan. Infeksi saluran pernapasan biasanya diobati dengan antibiotik yang diberikan melalui suntikan. Namun, untuk menentukan penyakit ini membutuhkan diagnosis dari dokter hewan. Kura-kura juga rentan terhadap penyakit tulang metabolik MBD, yang disebabkan oleh pola makan yang tidak memiliki cukup kalsium. Seperti banyak reptil, kura-kura perlu terkena sinar ultraviolet A dan B UVA/B untuk dapat menyerap kalsium. Jika kura-kura tidak mendapatkan cukup kalsium, cangkangnya akan menunjukkan tanda-tandanya terlebih dahulu. Pada kura-kura muda, cangkangnya mungkin tidak tumbuh dengan kecepatan yang cukup tinggi. Kura-kura yang lebih tua mungkin memiliki tulang yang lemah di kaki mereka, dan mengalami kesulitan berjalan, atau bahkan mengalami patah tulang. Kalau kamu ingin tahu lebih lanjut seputar perawatan kura-kura dan masalah kesehatannya, kamu juga bisa gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter hewan, kapan dan di mana saja. ReferensiThe Spruce Pets. Diakses pada 2021. An Introduction to Pet Smart. Diakses pada 2021. A Set-up Guide for new Tortoise Pets. Diakses pada 2021. Tortoise Care Guide For Beginners.
tidak ada yang memelihara